Pseudo-Entertainment adalah sebuah lingkungan penelitian artistik dan pertunjukan tingkat lanjut (mid-carrier)—ekologi karir bagi seniman, kurator, dramaturg, dan produser yang ingin meregangkan batas praktik, mempertajam kepekaan, serta menguji logika kerja. Lingkungan ini bersifat post-learning, research-driven, sensitif terhadap konteks, dan bersifat intermediary—mendorong perjumpaan lintas peran.
Pseudo-Entertainment diproduksi oleh BPAF Foundation sejak 2025, untuk mengolah waktu, ruang, memori, dan konstelasi kehidupan sehari-hari. Di dalam lingkungan ini, pertunjukan dipahami sebagai wahana pengetahuan: metode untuk mempertajam kepekaan indera, membangun refleksi kritis, dan menumbuhkan imajinasi sosial baru. Pseudo-Entertainment mengundang partisipan untuk mempertanyakan secara radikal motif, gagasan, praktik, bentuk, serta kepenontonan—sebagai cara membuka simpul ketegangan antara kreativitas, kapitalisme afektif, dan harapan akan transformasi sosial.
Nilai dasar dan prinsip yang menopang lingkungan ini meliputi:
Mendengarkan dengan penuh empati (radical listening): mendengarkan yang membuka ruang pertemuan, bukan hanya menerima informasi.
Berpikir reparatif (reparative thinking): berpikir sebagai perawatan, bukan sebagai kompetisi pengetahuan.
Praktik relasional (relational practice): kesadaran bahwa produksi artistik adalah ekologi relasi.
Intervensi spekulatif (speculative intervention): menggunakan pertunjukan untuk memantik skenario masa depan, bukan sekadar merepresentasi kenyataan.
Pseudo-Entertainment berlangsung di Bandung—yang dibaca sebagai ruang dan sekaligus gagasan. Sebagai ruang, Bandung adalah situs pascakolonial yang berubah dari waktu ke waktu seturut laju modernisasi. Sebagai gagasan, Bandung mewarisi marwah Konferensi Asia-Afrika dengan spirit solidaritas yang terbaca sebagai gestur dekolonial untuk meretas imperialisme global (delinking epistemology).
Bandung sebagai ruang dan gagasan hari ini adalah paradoks yang menampilkan komodifikasi serta spektakularisasi kota di satu sisi dan isu-isu kerentanan sosio-ekologis sebagai dampak dari pembangunan kapitalistik di sisi lain. Berhadapan dengan Bandung, keseluruhan proses dirancang sebagai sebuah pengalaman bernegosiasi dengan pertanyaan serta ketegangan antara tubuh dan jiwa, isi dan bentuk, motif dan cara, individualitas dan kolektivitas, yang privat dan politis, yang etis dan estetis juga biner-biner lain yang secara nyata atau semu beroperasi di masyarakat.
Pseudo-Entertainment berupaya memaknai (knowing) dan mengalami (sensing) Bandung dengan perspektif lintas lokal yang majemuk sekaligus menjalar sembari mendorong refleksi yang dialektis dan menumbuhkan kesadaran partisipan sebagai bagian dari warga masyarakat serta dunia dengan segala kompleksitasnya.
Pseudo-Entertainment dibentuk dari beberapa elemen utama yang bekerja sebagai satu jaringan ekologis—lingkungan hidup tempat pengetahuan bersirkulasi melalui tubuh, percakapan, praktik riset, proses menonton, dan latihan membaca situasi.












